ORASI ILMIAH
ORASI ILMIAH KETUA BADABN EKSEKUTIF MAHASISWA UNIVERSITAS KALTARA
Sekali lagi saya
ucapkan Selamat datang mahasiswa baru di kampus impianmu.
Tempat yang akan menemanimu dalam waktu yang tak lama. Jika saya habiskan
kuliah cukup lama, kini kalian waktu kuliah singkat
saja. Ada yang menjalaninya hanya 3 tahun dan ada yang 4 tahun. Malahan ada
yang 3 setengah tahun. Mirip lomba, kuliah membuatmu memandang teman seperti
lawan. Mula-mula pada soal penampilan dan lama kelamaan dalam hal prestasi.
Terlebih kampus sekarang ini suka sekali memamerkan mahasiswa yang jadi juara.
Seakan kampus serupa dengan medan laga dimana tiap anak muda harus siap
bertarung: kalah atau menang. Tapi apapun yang terjadi percayalah kampus adalah
tempatmu untuk menguji mimpi dan nyali.
Jangan
percaya kalau jadi sarjana itu tujuan utamanya. Tak ada yang istimewa dari
acara wisuda. Berjejer rapi lalu digeser toga kemudian foto bersama keluarga.
Sungguh itu adegan yang menjemukan dan tak layak untuk dirindukan. Terlebih,
jangan meyakini bahwa IP (indeks prestasi) tinggi itu segalanya. Kampus beda
dengan SD dimana yang bernilai tinggi selalu dapat pujian. Sudah banyak
kepercayaan kalau IP tinggi tak menjamin segalanya. Tengok saja banyak tokoh,
para penemu hingga aktor yang kuliahnya pernah gagal tapi karirnya gemilang. IP
itu hanya perkakas kuliah yang diperebutkan dengan tenaga seadanya saja. Jangan
terlampau berburu, sama halnya juga jangan terlalu meremehkan. Ringkasnya,
kuliah tak hanya berpusat pada apa yang ada di bangku dan apa yang dikatakan
oleh dosenmu. Itu sebabnya biarkan petualangan membawamu ke sana kemari. Kampus
memberi kamu pengalaman yang tak dapat kamu peroleh di mana-mana. Diantaranya
adalah organisasi. Sangkar yang indah dan memikat untuk anak muda yang berani.
Dilatih di sana kamu untuk melawan apa yang memang sepatutnya kita lawan.
Memusuhi korupsi, pelanggaran hak asasi manusia hingga membela mereka yang
ditindas. Disanalah kamu dilatih memimpin, peduli dan melindungi. Tak ada mata
kuliah satupun yang bermuatan itu semua. Di organisasi pintu untuk mendapatkan
pengetahuan mengenai itu. Maka jangan ragu-ragu untuk masuk ke dalamnya. Jangan
kuatir karena disanalah kamu akan tersesat di jalan yang benar. Walau kamu tak
dijanjikan IP tinggi atau menang lomba, tapi kamu memiliki pengalaman yang
lebih berharga ketimbang jadi juara.
Tak
sedikit orang yang punya pengalaman organisasi kini menikmati kenangan manis.
Kenangan ketika memprotes tindakan aparat, menentang keputusan yang tak adil
dan membangkang pada kebijakan yang merugikan. Bukan hanya kenangan tapi mereka
menuai hasil yang sepadan: lebih berani mengambil posisi, tak gampang
berkhianat pada pendirian dan menghargai kebebasan mengemukakan pandangan.
Walau tak sedikit pula yang melacurkan keyakinan. Setidaknya, organisasi
membimbing keyakinan untuk percaya kalau kebenaran itu bukan retorika kosong.
Dan kebenaran juga akan memberi kamu semangat untuk mencurigai semua kepalsuan.
Itu sebabnya organisasi adalah kuliah yang sesungguhnya. Kamu bukan diajarkan
untuk meraih prestasi, tapi kamu dibimbing untuk memahami bahwa dasar hidup itu
adalah solidaritas dan kepedulian. Dasar hidup itu yang akan membawamu pada
keyakinan untuk selalu memihak ketika ada lapisan yang dizalimi dan tak mudah
buatmu untuk membenarkan tiap putusan yang bawa binasa. Hanya organisasi yang
meyadarkanmu kalau hidup itu tak bisa dilalui seperti binatang: kawin, beranak,
cari makan, dan mati. Tapi tak mudah berbagi kepercayaan ini padamu. Kampus
telah membujukmu untuk kuliah dengan sandaran harapan nilai serta gelar. Dengan
bujukan itulah kamu dikejar-kejar untuk lekas jadi sarjana, ketika kuliah bisa
sambil kerja dan saat kuliah dapat raih prestasi. Keyakinan itu ditanam pula
oleh orang tuamu. Sedikit orang tua yang mengantar anak kuliah agar dirinya
bisa hidup dalam perahu gerakan. Lebih-lebih biaya kuliah yang terus naik
membuat kamu berfikir seperti kalkulator: jumlahkan, kalikan dan hasilnya harus
sama. Kalau bisa lebih besar. Itu sebabnya kamu diajarkan bagaimana ilmu
kesuksesan dalam hidup bukan petualangan dalam melawan badai kehidupan.
Training motivasi diulang di mana-mana dengan kesadaran bahwa optimisme dan
percaya diri modal untuk semua. Juga training wirausaha dilakukan di mana-mana
dengan harapan kamu bisa raih uang sejak dini. Seolah-olah kampus memang maunya
menghasilkan jutawan, orang terkenal dan punya banyak pendapatan. Sejak itulah
kampus lalu merias dirinya dengan fasilitas yang kadang berlebihan. Kamu tak
lagi berada di taman pengetahuan tapi taman hiburan.
Maka
lihatlah mereka yang ‘dianggap’ berhasil kuliahnya. Mendapat uang yang besar,
jabatan yang menawan dan bisa kembali ke kampus dengan kisah keberhasilan.
Sungguh itukah yang mau kauraih dalam hidup di masa-masa mudamu? Masa-masa emas
dimana banyak orang ‘besar’ dulu lahir pada masa-masa itu. Melihat paras Hatta
yang kuno, sederhana dan rajin baca kita jadi termangu: benarkah bangsa ini
dulu diproklamasikan oleh sosok yang serius semacam ini. Menengok Soekarno yang
muda, tampan dan nekat kita jadi terhenyak: inikah anak muda yang bersama Hatta
bacakan proklamasi? Di samping mereka lebih banyak lagi anak-anak muda yang
kala itu berfikir besar, berbuat nekat dan mencoba untuk mendirikan prinsip
yang melawan zaman. Kala itu kolonialisme seperti keniscayaan dan kedaulatan
seolah mimpi. Tapi mereka adalah anak muda yang melompat dari arus zaman:
percaya bahwa pendidikan tinggi bukan tempat untuk cari gelar dan meyakini
kalau kuliah memang jalan untuk berangkat menuju petualangan. Tentu kau bisa
anggap itu contoh yang klasik dan kuno. Soekarno kini sudah mangkat, begitu
pula kawan-kawanya. Tapi setidaknya kamu bisa menyaksikan bagaimana ‘efek’
pemikiran mereka hingga kini. Kedaulatan, kemandirian dan kehormatan sebagai
bangsa ditanam oleh tangan-tangan mereka. Saat itu bangsa ini jadi ‘terdepan’
di antara bangsa-bangsa Asia: inisiatif untuk membuat blok Asia Afrika,
dorongan untuk menghidupkan solidaritas pada negara yang dijajah dan, yang
lebih penting, kemandirian untuk membangun ekonomi. Ide itu sampai kini hanya
jadi sebuah petuah tiap kali bangsa ini dihadapkan oleh masalah. Tak banyak
keberanian untuk membuat ide itu hidup, tumbuh dan dipraktikkan. Para penguasa
berikutnya sibuk mempertahankan jabatan dan berpikir untuk kepentingan diri
sendiri. Salah satunya yang paling tragis adalah kejadian di tahun 65: jutaan
orang dibunuh, dibuang dan dipenjarakan. Itulah masa terburuk dari bangsa ini
karena akal sehat dan nilai kemanusiaan diremukkan dengan cara brutal. Sejak
saat itu, sesungguhnya, kita memasuki era gelap dimana kebenaran, kepedulian
dan kecintaan pada nilai-nilai kemanusiaan telah rontok. Kini kamu memasuki
massa seperti yang pernah dialami oleh Soekarno, Hatta atau Tan Malaka. Masa
dimana kedaulatan bangsa dianiaya dan kehidupan rakyat masih banyak yang
sengsara. Tak banyak anak muda yang mampu kuliah sepertimu. Lebih tak banyak
lagi anak muda yang bisa bekerja mapan seperti yang kau inginkan. Tak pernahkah
kamu melihat petani yang sawahnya dilipat untuk jadi pabrik dan perumahan? Tak
pernahkah kamu dengar orang miskin kampungnya digusur untuk pembangunan?
Tidakkah kamu melihat banyak politisi bejat merasa berkuasa dengan buat aturan
seenak perutnya sendiri? Hingga kamu mungkin capek menyaksikan para pejabat
hukum malah jual beli perkara. Kemudian kekayaan pejabat melambung sampai tak
terhingga. Ini masa seperti zaman kolonial dulu: dimana manusia memeras manusia
lain. Saat mana manusia menipu sesama. Ketika manusia berani menganiaya dengan
kejam. Inilah zaman bergerak yang membuka pintu kesempatan kamu untuk membuat
sejarah.
Kini
tataplah wajah para pendiri republik ini. Tak ada kemewahan yang tampak di
wajahnya. Air muka mereka menyiratkan harapan dan kehendak. Harapan bahwa
negeri ini bisa dibangun dengan cara mandiri dan kehendak untuk membuat bangsa
ini bisa punya pengaruh. Keyakinan itu kini rontok karena bangsa ini terlanjur
terbelit dalam hutang dan sulit untuk menampik kehendak bangsa lain. Seperti
kita ditampar melihat bangsa ini bingung untuk membuat rakyatnya sejahtera:
diganti menteri, diganti kebijakan, hingga diganti kurikulum. Kita kehabisan
akal karena kita tak punya gagasan, ide dan keberanian untuk mengambil jalan
baru. Saatnya kalian sebagai mahasiswa memutus rantai kegelapan ini. Tak hanya
dengan belajar tapi bergaul serta berpetualang melihat kehidupan rakyat miskin
yang sebenarnya. Biarkan amarah kalian berkobar melihat ketidak-adilan dan
jangan takut jika kalian memang punya keinginan untuk membela mereka. Mungkin
tak ada dukungan atau mungkin kalian dijatuhi hukuman. Tapi sejarah mencatat
bahwa itu adalah ongkos terindah dari sebuah posisi perjuangan. Kini langit
kampus itu akan jadi saksi pertumbuhan keyakinanmu. Jejak jejak muda seperti
apa yang hendak kamu toreh. Tiap jejak itu akan jadi butiran keyakinan yang
kelak akan diam-diam membentukmu. Jika sikap berani yang kamu tanam niscaya
kamu akan berkembang tanpa rasa takut. Kalau sikap empati yang kamu semai kelak
kamu akan jadi manusia yang peka dan mudah tersentuh. Oleh penderitaan,
terhadap ketidak-adilan dan atas semua bentuk kebohongan. Maka jadilah mahasiswa
yang tak hanya berharap meraih gelar sarjana. Juga jadilah mahasiswa yang tak
berambisi menggapai nilai tinggi saja. Ingat-ingatlah bahwa tiap anak muda bisa
menoreh sejarah berharga untuk diwariskan pada generasi berikutnya: Tan Malaka
memberi ilham tentang Kemerdekaan 100% tanpa kompromi, Soekarno meneguhkan
hutang budi bangsa pada kaum marhaen serta Semaoen meneguhkan hikayat kaum
terpelajar yang menolak berhamba pada kaum feodal. Mereka diilhami bukan oleh
buku kuliah, tapi petualangan dan perjumpaan dengan masalah. Maka tak heran
mereka dengan akrab ide-ide progresif yang dimuat dalam karya-karya kiri.
Sekali lagi jangan mau ditipu oleh propaganda. Yang bilang kiri itu atheis.
Yang mengatakan kiri itu bahaya. Jika jadi mahasiswa selalu harus waspada, maka
apa bedanya kamu dengan para serdadu? Dimana sloganya selalu pakai istilah
harga mati dan ucapanya dibumbui oleh bahaya. Maka sejak jadi mahasiswa
buanglah kebiasaan tak terdidik itu. Yang selalu mudah percaya oleh ancaman dan
gampang meyakini sesuatu yang tanpa bukti. Tantanglah semua yang kamu anggap
tidak ada dasar sejarah dan akal. Beranikan dirimu untuk menerobos tabir-tabir
ketakutan yang diwariskan oleh penguasa masa lampau. Meski waktumu tak panjang
berusahalah untuk mendobrak tatanan buntu ini. Sebab jika kamu mampu
meruntuhkan tembok itu, sedikit saja, maka sesungguhnya kamu sudah memberi
jalan bagi petualang berikutnya. Mahasiswa baru yang terus terlibat menyudahi
tatanan yang usang.
Selamat
datang para petualang yang hidup tidak untuk ‘gelar’ tapi ‘petualangan dan
perlawanan’. Dan Selamat berkarya berbuat untuk universitas kaltaara tercinta
yg berkwalitas di Kalimantan utara.

Komentar
Posting Komentar